Rabu, 17 September 2008

TEKNOLOGI IPV/9

Recently, the news that China is adopting IPv9 is making rounds on the Internet. While some of them write off as an April Fool's joke (in July?) like RFC 1606, others wonder if there is more than meets the eye. But most of them wonder what this IPv9 is and how does it actually work. And some of the English translated articles are so badly done that it is impossible to get any useful technical information except that 'It is developed and supported by Chinese government!'

Well, let me clear the air: this is not a joke and it is not RFC 1606.

I had an encounter with them back in 2001. The technology is developed by 十进制网 called "数字域名" which translates roughly to "Numerical Domain Name". Originally, they called this All-Digital-Domain-Address (ADDA). Subsequently, they became more ambitious that they believe ADDA could be assigned to every machine on the Internet, like an IP address and hence IPv9 is born.

The 10-digit number mentioned in the news refers to phone numbers. (China uses a 10-digit local phone number, excluding country code and area code). The idea is that you can navigate the web, telnet, ftp, ssh using phone numbers.

The technology is basically a modified DNS server. The modified DNS will 'intercept' domain names which contains all numbers, and then forwards it to their own 'root servers' to be resolved. As it is based on DNS, it can resolve to an IPv4 or IPv6 address, and thus they can claim 'compatibility with IPv4 and IPv6'. The business model is basically getting you to register your phone number with them.

So it isn't really IP as you would think. But despite this, they seem pretty well connected in China and have support from Ministry of Information Industry among others. Lots of press release with a strong claim of support from China government but no actual deployment I am aware of.

TEKNOLOGI MENGAMANKAN KEHILANGAN HP

Jika seseorang atau mungkin teman Anda meminjam ponsel Anda, atau Anda lengah untuk mengawasi ponsel Anda, maka Anda wajib berhati-hati karenanya. Terkecuali jika Anda memperhatikan teman atau seseorang yang menggunakan ponsel Anda, maka mereka dapat mengambil setiap hal dan informasi dari ponsel Anda, bahkan mereka bisa menghapus pesan Anda yang Anda anggap penting. Jika Anda meninggalkan ponsel Anda di meja atau di mobil ketika parkir, email, spreadsheet atau informasi lainnya, maka Anda dan semua orang yang ada di contact Anda akan berada dalam resiko.

Untuk mencegah resikonya, maka kini ada alat elektronik yang telah dikembangkan untuk kepentingan hukum, dan operasi intelijen, yang juga telah dipublikasikan dan digunakan oleh umum. Alat elektronik tersebut dinamakan Cellular Seizure Investigation Stick, or CSI Stick. CSI Stick dibuat oleh sebuah perusahaan bernama Paraben dan module didalamnya sama ringannya dengan korek api gas. CSI Stick dapat plugin langsung ke kebanyakan ponsel Samsung dan Motorola untuk mengambil semua data yang ada dalam ponsel. Untuk ponsel lainnya juga akan ditambahkan dalam list, seperti Nokia, RIM, LG dan sebagainya.

CSI Stick telah menarik perhatian public karena potensinya untuk mempercepat dan menyembunyikan semua download informasi yang terkandung dalam ponsel. CSI Stick ini akan mengkoneksikan data dan akan mengambil email, IM (Instant Messages), dialed number, phonebook, dan semua hal yang tersimpan dalam memori telepon. Alat tersebut juga dapat mengembalikan file yang telah dihapus yang tentunya belum ditimpa atau ditulisi dalam nama file lain. Selain itu, juga tidak ada pelacakan file corruption, sehingga mungkin hal ini dapat menjadi masalah untuk pegawai perusahaan dan bagi mereka yang bekerja untuk agen pemerintah.

Berita baiknya, CSI Stick dapat membantu para orang tua untuk memonitor apa yang dilakukan anaknya ddengan ponselnya, siapa yang mereka ajak bicara dan berkirim pesan text, dan situs apa yang mereka buka. Alat ini juga bernilai dalam area yang aman dimana pegawai dapat memastikan bahwa informasi yang sensitive tidak terganggu selama penggunaan ponsel. CSI Stick dijual seharga USD 200 dan membutuhkan software tambahan untuk mengambil data dan memprosesnya dalam computer. Jika ponsel Anda mengandung data yang sensitive, maka jangan pernah meninggalkan ponsel Anda tanpa pengawasan


MORE DETAIL PM aja heheh

Minggu, 14 September 2008

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ
”Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia”


Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agus tus 2006 lalu.
Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya
dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan
penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah
yatim. Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya.
Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua
kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun.
Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia
terkena gondok (hipertiroid).
Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya.
Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agus tus 2006 Aslina menjalani
check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC)
Melaka Mala ysia . Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang
batas sehingga belum bisa dioperasi.
”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘ jelas Rustam. Oleh
karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah.
Mala mnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke
unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya
sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina
seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan
kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina
menghembuskan nafas terakhir,” ungkapnya. Usai Rustam memberi
pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.


”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,”
begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang
memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati
jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang.
”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku
mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit
hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.
”Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,”
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat
thoyibah.

”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya,
Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di
sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang
terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan
Assalaimualaikum kepada ruh Aslina.
” Mala ikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,” ujar Aslina menceritakan pengalaman matinya. Lalu malaikat
itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa
nama orangtuamu. ” Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan
lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,”
tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam
itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam
barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,
badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah
amal buruk dari orang tersebut.


Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia
mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput.
Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh
dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya.
Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah
saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya.
Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia
antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun.
Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina
mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah
sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis.
Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan
adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena
janji telah sampai”.


Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin
bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada.
”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah
kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk.
Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang
beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa
ke kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya
terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh
Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu
menjawab.”Akulah (amal) kamu.”
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan
menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa.
Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya
menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.
”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika
hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina
bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan
bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan
dunia kalimat syahadat ketika di dunia.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya.
Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang
saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam
orang lain.


Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan,
setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu
berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya.
Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh.
Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi. Orang tersebut
adalah orang yang suka berguru pada babi. Ada pula orang yang
dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang
durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina
di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan
amalnya yang ada disisinya tak tampak.
Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan
Allahu Akbar.Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya
mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di
dalam tepak terdapat batangan emas.
Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab
tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek
berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir
hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun
mengatakan kepada amalnya.
”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan
tangan ruh Aslina.
”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia
shalat,” ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu
diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam
tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu
mengeluarkan cahaya terang.
Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya
itu pun bicara kepada ruh Aslina.
”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad
berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak
sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.”
Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku
mau beramal.”
Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat
ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang
datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh
serta tidak melanggar aturan Allah.
Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang
telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus
penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan
apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan
Barat.
Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada
Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap
kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati
suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.
”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah
kepada kita semua” ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr
Raymond A Moody Jr tentang mati suri.
Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu,
di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama
hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ”Dan aku
ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin
dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang
menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat
99-100:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada
dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran
Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan
berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu
tidak dapat ditolong (lagi).”

Selasa, 09 September 2008

MY UPLOAD NEH ... UP TO DATE ...

http://rapidshare.com/files/144020956/Kerio.WinRoute.Firewall.v6.4.2.3672.x86-SSG.rar
http://rapidshare.com/files/144021736/linkpenting.txt
http://rapidshare.com/files/144024707/paragon_harddisk_manager_pro_8.5_for_vista.rar
http://rapidshare.com/files/144021582/pass_nudes.txt
http://rapidshare.com/files/144021347/VideoGet.exe

Minggu, 07 September 2008

KEMBALINYA MAHESA JENAR

KEMBALINYA MAHESA JENAR

“Ki sanak, siapakah nama Ki Sanak?
Dari manakah asal Ki Sanak?
Sebab dari pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang daerah kami…”


Ia memakai blangkon ikat lembaran. Badannya gagah, tinggi-besar.
Pakaian yang dikenakannya sangat bersahaja: lurik hijau gadung melati
(hijau tua). Di telinga kirinya sering terselip bunga melati. Ia mengembara
dari desa satu ke desa lain, dari satu kedemangan ke kedemangan lain.

Ia seorang pengikut Syeh Siti Jenar. Ia gelisah karena Syeh Siti Jenar
dieksekusi mati oleh para wali. Mulanya, ia seorang perwira Demak yang
sangat disegani bernama Rangga Tohjaya. Lalu ia pergi meninggalkan Demak,
menyusuri hutan dan lereng-lereng gunung di Jawa Tengah. Mengubah nama
menjadi Mahesa Jenar. Mencari sepasang keris: Nagasasra dan Sabuk
Inten--yang syahdan bisa tetap mempertahankan kewibawaan Demak.

Bila ada sebuah sosok fiksi yang namanya pernah begitu populer di seluruh
pelosok Jawa Tengah, itulah mungkin Mahesa Jenar. Mahesa--ciptaan almarhum
S.H. (Singgih Soehadi) Mintardja--adalah pendekar dalam cerita bersambung
Nagasasra Sabuk Inten. Mungkin para kritikus menganggap karya ini sebagai
"sastra picisan", namun harus diakui pencapaiannya mungkin tak bisa
ditandingi novel-novel serius kita mana pun.

Nagasasra dikenal dibaca dari tukang becak sampai para pegawai. Ia
menyentuh imajinasi kalangan jelata, merakyat, hingga sampai banyak orang
menamakan anaknya dengan nama pendekar dalam kisah ini.

Gaya berbaju lurik Mahesa pernah menjadi tren di kalangan seniman Yogya,
bahkan klub sepak bola seperti PSIS Semarang--sampai sekarang mereka
menyebut dirinya “tim Mahesa Jenar”.

Karya S.H. Mintardja ini awalnya dimuat secara rutin (tiap hari) di harian
Kedaulatan Rakyat (KR) pada 1966. Kemudian dibukukan seluruhnya menjadi 64
jilid, tiap jilid 80 halaman. Saat cetakan kedua, dipadatkan menjadi 32
jilid dengan tebal 160 halaman. Di masa lalu, amat mudah menemukan seri
Nagasasra di warung-warung koran, warung rokok, atau kios buku di Yogya.

Karena itulah agaknya pihak Kedaulatan Rakyat menerbitkan edisi luks
Nagasasra Sabuk Inten. Bersampul hard cover, semuanya berjumlah tiga jilid
dengan tebal masing-masing sekitar 800 halaman. Harga per jilid Rp 100
ribu. "Sebuah edisi koleksi," kata Joko Budiarto, editor harian Kedaulatan
Rakyat yang menangani edisi luks ini. Kelahiran kembali cerita silat yang
merakyat itu menarik untuk dirayakan.

S.H. Mintardja adalah pelopor kisah genre silat Indonesia. Sebelumnya,
cerita-cerita silat Cina telah banyak digemari masyarakat, baik yang
saduran seperti terjemahan O.K.T (Oey Kim Tiang) dan Gan Kok Liang alias
Gan K.L. maupun yang karangan sendiri seperti karya-karya Asmaraman
Sukowati Kho Ping Hoo.

Tapi gara-gara S.H. Mintardja memunculkan Nagasasra, Kho Ping Hoo pun
mencoba menulis silat Jawa. Ia membuat Badai Laut Selatan, Kuda Putih dari
Mataram, dan sebagainya. Lalu muncullah generasi para penulis silat Jawa,
mulai dari Herman Pratikto yang menulis Bende Mataram sampai Arswendo
Atmowiloto yang menciptakan Senopati Pamungkas.

Almarhum S.H. Mintardja--sering disapa Pak Singgih--di masa lalu bekerja
sebagai pegawai negeri di bidang kesenian Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Yogyakarta. Ia selalu berpenampilan rapi dan sederhana.
Dari masa muda, ia memang bergelut di dunia seni. Setamat SMA bersama
Kirdjomulyo, Nasjah Jamin Widjaja, dan Sumitro, misalnya, ia mendirikan
majalah Fantasia dan majalah film Intermezzo. Lalu ia menjadi aktor dalam
grup drama Ratma, yang dipimpin Kirdjomulyo.

Banyak yang menganggap cerita Mahesa Jenar mencari keris Nagasasra Sabuk
Inten menggambarkan ketersingkiran Mintardja sebagai orang PNI di zaman
Orde Baru. Sutradara ketoprak Bondan Nusantara termasuk yang menafsirkannya
demikian. Mintardja menganggap Orde Baru cenderung arogan. Kepada Bondan,
ia pernah mengatakan bahwa ia menyikapi situasi politik yang sedang
berjalan saat itu. "Mahesa Jenar lambang pendekar yang ‘dibuang’ oleh
negara, tapi mengabdi tanpa pamrih. Ini nasionalisme Pak Singgih," kata Bondan.

Kisah Nagasasra Sabuk Inten memang bercerita tentang kekuasaan dengan latar
belakang gonjang-ganjing Demak Bintoro. Sidang para wali di Kesultanan
Demak memutuskan mengeksekusi Siti Jenar dan kemudian murid-muridnya: Ki
Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging. Mahesa Jenar adalah murid Ki Ageng
Pengging.

Ki Kebo Kenanga meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet yang
dibesarkan Nyi Ageng Tingkir. Mahesa Jenar mencari putra itu. Sebab, di
kala kecil Sunan Kalijaga telah melihat tanda-tanda Mas Karebet bakal
menjadi penguasa. Jenar juga mencari Nagasasra dan Sabuk Inten, sepasang
pusaka warisan Majapahit yang hilang. Tapi ternyata kedua keris itu juga
diperebutkan oleh golongan hitam. Mereka juga percaya, bila memiliki
sepasang keris itu, bisa absah mendirikan pemerintahan tandingan yang
menyaingi kekuasaan Demak.

Sesungguhnya, soal konflik para wali dengan Syeh Siti Jenar alias Syeh
Lemah Abang itu akan menarik apabila dieksplorasi lebih jauh. Tapi, dalam
Nagasasra, S.H. Mintardja tidak banyak mengisahkan perseteruan para wali.
Mungkin karena Mintardja seorang penganut Katolik. "Dia sendiri pernah
mengatakan, karena tidak menguasai Islam, dia tidak berani menulis lebih
banyak tentang para wali," kata Bondan Nusantara. Sebagai seorang Katolik
kejawen, agaknya S.H. Mintardja lebih menuliskan paham-paham kejawennya.

S.H. Mintardja terlihat tak menyukai kekerasan. Mahesa Jenar bila bertempur
dikisahkan tidak pernah membunuh kalau tidak terpaksa. Seburuk apa pun
tokoh itu, tidak sampai dibunuh. Tokoh-tokoh golongan hitam yang sepanjang
hidupnya bengis, pada akhir hidupnya--saat sekarat--meninggal dengan
penyesalan. Seperti Sima Rodra penyamun dari Gunung Tidar, atau Lowo Ijo
penguasa hutan Mentaok, mereka berdua jahanam sejak awal, tapi mati dengan
keikhlasan sebuah pertobatan.


***
"S.H. Mintardja ini banyak membaca babad dan berbagai serat," kata
sejarawan UGM, Prof Joko Suryo. Menurut dia, banyak nama tokoh Nagasasra
seperti Ki Ageng Pengging, Kebo Kanigara, Joko Tingkir, yang memang ada
dalam cerita sejarah.

Berbagai lokasi yang digunakan dalam setting Nagasasra semuanya juga lokasi
konkret, macam Lereng Merbabu, Rawa Pening, Gunung Slamet, Gunung Tidar,
Nusakambangan. S.H. Mintardja dikenal kerabatnya sebelum menulis cerita
selalu mensurvei sendiri lokasi sambil membawa peta. Saat mensurvei lokasi
antara Merapi dan Merbabu, ia sampai menyusuri dari daerah Selo.

Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, misalnya, juga bagi pencinta keris di Jawa
dianggap dua keris yang ampuh. "Keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu memang
benar-benar ada," kata Sugeng Wiyono, ahli keris Yogya. Keris Nagasasra
menurut dia berwarna keunguan, dibuat oleh Mpu Supa Madrangki yang hidup
pada zaman Majapahit. Keris ini memiliki luk 13, simbolisasi kebangunan
jiwa. Sementara Sabuk Inten dibuat oleh Mpu Domas, juga dari Kerajaan
Majapahit, memiliki luk 11, berwarna putih kekuningan. Keris ini menjadi
simbolisasi welas asih.

Saat ini keris-keris tersebut disimpan di Keraton Solo (tahun 1974, menurut
Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris ini dibuatkan warangka
baru--dari kayu cendana wangi). Banyak tiruan keris ini, menurut Sugeng,
yang beredar di mana-mana sampai kini--dimiliki perseorangan kolektor
ataupun pejabatdan diperjualbelikan dengan harga beragam dari Rp 200 ribu
hingga sekitar Rp 4 miliar. Kedua keris ini memang menjadi makin populer
saat S.H. Mintardja mencipta kisah Nagasasra.

Berbagai ajian yang dimiliki para pendekar dalam Nagasasra juga sumber
imajinasinya berasal dari khazanah kebatinan populer Jawa. Paling tidak ada
tiga ajian dahsyat dalam kisah Nagasasra. Ajian Sastra Birawa yang dimiliki
Mahesa Jenar, ajian Lebur Seketi milik Gajah Sora, putra Ki Ageng Sora
Dipayana, dan ajian Lembu Sekilan yang dikuasai Joko Tingkir. Antara Sastra
Birawa dan Lebur Seketi seimbang. Bila Jenar menghantamkan Sasra Birawa
kepada Gajah Sora, tangannya seolah tertahan selapis baja yang tebalnya
sedepa yang bisa balik memukulnya. Sedangkan Lembu Sekilan dimiliki oleh
Jaka Tingkir. Ini ilmu aneh yang membuat semua serangan tak dapat menyentuh
tubuh Joko Tingkir.

S.H. Mintardja sendiri menurut sang istri, Suhartini, pernah belajar silat
Jawa, di antaranya Perisai Sakti, tapi tidak mendalami. "Bapak ikut silat
hanya untuk olahraga," katanya. Tapi agaknya S.H. Mintardja paham
seluk-beluk kebatinan Jawa. "Saya kira pengetahuan kebatinan Pak Singgih
cukup tinggi," kata Prof Djoko Prayitno, ketua dan pendekar pencak silat
Jawa: Persatuan Hati. Pencak silat Jawa, menurut Prof Joko Prayitno, dasar
gerakannya seperti tarian, tidak brutal. Pencak Jawa filosofinya wiraga
(mengolah raga), wirama (mengolah irama hidup), wirasa (mengolah rasa).

Yang disajikan S.H. Mintardja dalam Nagasasra banyak olah rasa ini.
Misalnya ketika Mahesa Jenar ditatar di gua Karang Tumaritis oleh Ki Kebo
Kanigara untuk menyempurnakan ilmunya, Sasra Birawa. "Ilmu ngrogoh sukma
yang dialami Mahesa Jenar itu, dalam kebatinan Jawa bisa dilakukan," tutur
Prof Joko Prayitno.

Tapi, karena arahnya lebih ke olah rasa, ia melihat jurus-jurus silat yang
ditampilkan para pendekar ciptaan S.H. Mintardja sangat kalah detail
dibanding cerita silat Cina seperti yang disadur OKT atau Gan K.L. "S.H.
Mintardja kalau sudah menulis perkelahian, misalnya bila pendekarnya
menampilkan tendangan, tidak dijelaskan dengan jurus apa atau menghindar
dengan jurus apa. Hanya paling-paling tertulis tubuhnya digeser, mundur
selangkah, tubuh direndahkan…."




***
Harus diakui, kemampuan dan kepekaan S.H. Mintardja mencampuradukkan
tokoh-tokoh ciptaannya sendiri dengan sejarah, lokasi-lokasi konkret, mitos
yang hidup di masyarakat, yang membuat karya ini mampu menancap dalam-dalam
di benak masyarakat dusun-dusun Jawa Tengah. Apalagi, pada tahun 1980-an,
drama radio penuh dengan ketoprak--yang menampilkan lakon Mahesa Jenar.
"Kalau Pasingsingan datang, terasa mencekam," demikian Nyoman Agung,
seorang wartawan penggemar Nagasasra, teringat masa kecilnya saat
mendengarkan drama radio itu. Pasingsingan adalah seorang tokoh golongan
hitam misterius yang memiliki beberapa macam ilmu golongan putih. Ia selalu
berjubah dan berkedok topeng kasar.

Hampir semua kelompok ketoprak top di Yogya dahulu, seperti Dahono
Mataram, Suryo Mataram, Wargo Mulyo, memainkan lakon Mahesa Jenar. "Saya
ingat betul, waktu itu bukan hanya kelompok ketoprak di Yogya, tapi
ketoprak seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur mementaskan lakon Mahesa
Jenar," tutur Bondan Nusantara. Setiap malam Jumat, misalnya, Siswo Budoyo
dari Tulungagung menampilkan lakon Mahesa Jenar, sementara Ketoprak Darmo
Mudo dari Semarang mementaskannya setiap malam Kamis. Menurut Bondan,
ketoprak tobong itu berkeliling dari kota ke kota, kecamatan ke kecamatan.
Judul yang pernah dipentaskan, misalnya, Dedah Prambanan, Nyabrang Alas
Tambak Boyo, Saresehan Rawa Pening. Semua itu diambil dari episode Mahesa
Jenar, tapi dipotong-potong.

Akibat begitu populernya, menurut Andang Suprihadi Purwanto, putra sulung
S.H. Mintardja, kala ayahnya masih hidup, banyak pasangan suami-istri yang
datang menemui Singgih untuk meminta restu memberi nama anaknya sesuai
dengan nama pendekar dalam Nagasasra. Ada juga yang meminta izin mendirikan
perguruan silat dengan nama Pandan Alas--meniru nama Ki Ageng Pandan Alas,
pendekar sepuh ciptaan S.H. Mintardja yang pandai menembang dalam Nagasasra.

Hasmi, kreator tokoh Gundala Putra Petir, mengakui inspirasinya tentang
Gundala datang dari membaca Nagasasra. Dalam Nagasasra, S.H. Mintardja
menyebut-nyebut nama Ki Ageng Selo dan ular gundala. Sesuai dengan legenda
Jawa, Ki Ageng Selo diyakini bisa menangkap petir. Ki Ageng adalah teman
sepermainan Mahesa Jenar. Petir dalam cerita disebut senjata para dewa
dalam bentuk simbol ular gundala. Batara Wisnu memiliki ular gundala seta,
Batara Kala memiliki ular gundala wereng yang bisa menimbulkan bunga api di
udara.

Yang lucu, akibat membaca Nagasasra, banyak juga orang yang kemudian
mencari makam para tokoh yang ada dalam cerita itu. Andang Suprihadi
Purwanto mengenang, pernah suatu hari seseorang datang ke rumahnya. Orang
itu menyampaikan kepada S.H. Mintardja bahwa ternyata makam Mahesa Jenar
dan Pasingsingan Sepuh benar-benar ada. Kuburan Mahesa di Demak dan
Pasingsingan Sepuh di dekat Gunung Telomoyo. S.H. Mintardja hanya tersenyum
dan memberi tahu itu tidak mungkin karena Mahesa Jenar itu fiktif, buatan
dia sendiri.

Andang sendiri, yang pelaku kejawen, suatu hari pernah mencari makam Kebo
Kenanga dan Kebo Kanigoro. Ia menemukan makam itu di daerah Pengging. Kedua
makam itu dikelilingi benteng. Yang mengherankan, ada sebuah makam kecil di
luar benteng, tanpa nama. Ketika ia menanyakan kepada juru kunci, dijawab
bahwa itu adalah makam Endang Widuri, pendekar perempuan di Nagasasra.
Sesampai di rumah, dengan semangat Andang menceritakan hal itu kepada
ayahnya: "Tidak mungkin. Wong, Widuri itu nama fiktif, asli buatanku," kata
Singgih seperti ditirukan Andang.

***

Nagasasra bukanlah cerita bersambung terpanjang yang dibuat S.H. Mintardja.
Cerita silat terpanjang yang pernah ditulis S.H. Mintardja adalah Api di
Bukit Menoreh. Cerita ini pertama kali dimuat di harian Kedaulatan Rakyat
tahun 1968, setelah pemuatan Nagasasra selesai. Dalam bentuk cetakan buku,
Api di Bukit Menoreh ada 496 jilid. Tatkala berjalan menulis Api di Bukit
Menoreh, Almarhum juga menulis cerita bersambung silat lain di harian Suluh
Marhain: Pelangi di Langit Singosari. Sampai akhir hayat sang pengarang,
cerita Api di Bukit Menoreh itu belum selesai dibuat.

Yang sulit dibayangkan adalah bagaimana S.H. Mintardja memiliki energi
untuk tiap hari sanggup kontinu menyerahkan naskah karangannya kadang di
dua koran yang berbeda (biasanya sepanjang tiga lembar mesin tik tiap
koran). Menurut Joko Budiarto, editor harian Kedaulatan Rakyat, apabila
S.H. Mintardja berhalangan tidak mengirim naskah, redaksi KR selalu
dibanjiri telepon menanyakan kenapa cerita bersambung tak muncul.

S.H. Mintardja melahirkan karya-karyanya dari sebuah rumah sederhana di
Gedong Kiwo MJ/801, di sekitar Pojok Beteng Kulon, Yogyakarta. Menurut
istrinya, Ibu Suhartini, dahulu ia menyediakan ruang khusus untuk mengetik
bagi suaminya di lantai dua, tapi justru ruang favorit Mintardja adalah
ruang makan. "Kalau sepi, bapak tidak produktif. Kalau menulis, bapak harus
di tempat yang bisa berinteraksi dengan orang lain," kata Suhartini mengenang.

Kebiasaan lain, setiap kali selesai menulis naskah terutama sandiwara
radio, S.H. Mintardja selalu meminta istrinya itu membaca lebih dahulu
sebelum naskah itu diserahkan ke sutradara. "Kalau ibu belum oke, bapak
belum akan menyerahkan ke sutradara," kata Andang. Agaknya, itu karena
Suhartini dahulu adalah pengisi suara sandiwara radio.

S.H. Mintardja menurut keluarganya tidak pernah mempunyai stok cerita.
Ceritanya mengalir, improve. Pengetahuan sejarahnya yang kuat membuatnya
tidak pernah kehabisan ide untuk mengangkat kembali cerita-cerita yang
hampir antiklimaks. Maria Kadarsih, pengasuh sandiwara radio, teman S.H.
Mintardja, misalnya, pernah melihat, dalam bekerja Almarhum menyiapkan
beberapa mesin ketik sekaligus. "Jadi kalau bosen atau buntu dengan kisah
satu, ia ganti ke mesin tik lain dengan cerita lain," kata Maria Kadarsih.
Untuk memudahkan cara kerja Mintardja, suatu kali sebuah penerbit berniat
membelikan Mintardja komputer, yang kala itu masih sangat mahal, tapi
Mintardja menolak dengan alasan lebih senang mendengar detak bunyi mesin
tik di malam hari.

Pada akhir kehidupan, S.H. Mintardja banyak menulis lakon ketoprak. Salah
satu karya S.H. Mintardja yang dikagumi Sultan Hamengku Buwono X adalah
naskah ketoprak berjudul Sumunaring Suryo ing Gagat Raino. Dipentaskan
November 1996 di Keraton Yogya. Ceritanya tentang alih kekuasaan dari
Pajang ke Mataram. Seperti juga cerita Nagasasra yang berakhir dengan Joko
Tingkir menggantikan Sultan Trenggana, memindahkan pusat dari Demak ke
Pajang, cerita ini membawa pesan politik halus tentang suksesi. Saat itu,
kita ingat terjadi tuntutan masyarakat agar Soeharto turun.

S.H. Mintardja meninggal 18 Januari 1999 pada umur 66 tahun di Rumah Sakit
Bethesda karena sakit jantung. Pada waktu wafat, tulisannya Mendung di Atas
Cakrawala masih dimuat bersambung sampai episode ke 848 di harian Bernas,
Yogya. Sepeninggal Mintardja, bukan berarti Mahesa Jenar mati. Terakhir
tahun lalu, 2005, di Yogya, dalam Festival Kesenian Yogya 2005, didukung
Wali Kota Yogya, para pemain ketoprak senior dan yunior muda dari 14
kecamatan di Yogya bergabung bersama dan menampilkan lakon Mahesa Jenar.
Adegan ketoprak akbar itu diawali dengan sumpah Mahesa Jenar:

"Aku ora bali ing Kraton Demak Bintoro kalamun durung bisa nggawa keris
Nagasasra-Sabuk Inten…" (Aku tak akan kembali ke Keraton Demak sebelum
membawa keris Nagasasra dan Sabuk Inten.)


Seno Joko Suyono dan L.N. Idayanie